REVIEW: THE FIGHTER (2011)

Selasa, 15 Februari 2011

| 0 komentar


The Fighter berhasil menggondol dua nominasi dalam Golden Globe Award 2011, yaitu masing-masing nominasi tersebut dimenangkan oleh Christian Bale dan Amy Adams sebagai pemeran pembantu pria dan wanita terbaik. Sempat membuat saya penasaran, kenapa Mark yg merupakan pemeran utama dalam The Fighter justru tidak bisa memenangkan piala Golden Globe Award tahun ini. seperti biasa... Film-film yang sudah tercantum menjadi nominasi apalgi pemenang dalam jajaran Golden Globe Award biasanya menjadi sebuah jaminan kalau film tersebut akan menjadi nominasi juga dalam Oscar yang akan dilangsungkan setelahnya. The Fighter sendiri mendapatkan enam nominasi dalam Oscar tahun ini.

"Perjuangan Micky Ward (Mark Wahlberg) untuk mendapatkan uang lebih banyak dan membuktikan ke semua orang menganai kemampuan bertinju yang dimilikinya membuat penonton terpaku di depan layar untuk terus menyaksikan perjuangannya itu. Untuk melatih kemampuan bertinjunya itu Micky dimanajeri oleh ibunya sendiri, Alice Ward (Melissa Leo). Alice memilih Dicky Ecklund (Christian Bale) sebagai pelatih Micky. Dicky adalah kakaknya Micky. Pada beberapa tahun yang lalu, Dicky merupakan petinju yang hebat karena berhasil mengalahkan Sugar Ray Leonard.  Sejak saat itu Dicky menjadi legenda di daerah tempat tinggalnya.

Saat Micky tengah berjuang latihan untuk memenangkan pertandingan yang akan dijalaninya, Dicky yang merupakan pelatihnya justru sibuk dengan acara syuting dari HBO yang akan menceritakan perjalanan hidupnya sebagai junker. Karena hal itu lah Dicky sering telat datang untuk melatih adiknya dan ketika dia datang pun sangat terlihat kalau dia sedang 'nagih'. Micky berusaha bertahan dengan keadaan seperti itu, hingga akhirnya tiba pertandingan perdananya. Di pertandingan itu, Micky kalah dan babak belur. Dalam keadaan terpuruk seperti itu datanglah Charlene Fleming (Amy Adams) yang menyemangati kembali Micky namun mendesak Micky untuk lepas dari kendali keluarganya, terutama dari ibu dan kakaknya.

Micky akhirnya mulai memperlihatkan ketidaksukaannya dan berani berontak dari kendali keluarganya. Dicky yang berusaha menjadi penengah akhirnya mengerti kemauan Micky yag ingin mendapatkan gaji secara profesional sebagai seorang atlet. Untuk mendapatkan uang demi menggaji Micky, Dicky melakukan cara-cara yang nekat, yaitu mempekerjakan pacarnya sebagai PSK yang menjaring kliennya di jalan. Setelah itu Micky akan berpura-pura sebagai polisi untuk merampok klien dari pacarnya tersebut. Aksinya itu akhirnya tertangkap oleh polisi dan dia pun dipenjara untuk ke 28 kalinya.

Saat Micky di penjara terjadi banyak hal yang di luar dugaannya, yaitu adiknya telah memilih untuk bekerjasama dengan pihak lain untuk melatihnya, dan keluarganya telah putus hubungan dengan karir yang dijalani Micky. Bahkan ketika Dicky akhirnya keluar dari penjara dia mendapati adiknya sedang dilatih oleh Mickey O'Keefe dan menolak dirinya terlibat dalam karirnya lagi. Dicky merasa sangat kecewa namun dia menyadari dan mengerti semua hal dan sikap yang tidak disenangi oleh adiknya itu. Dicky pun berusaha memperbaiki keadaan demi adiknya yang dia sayangi itu."

Melihat akting Bale yang sangat sangat total dalam The Fighter memang pantas rasanya jika dia nanti kembali berhasil menyabet kembali kategori Actor In A Supporting Role dalam Oscar. Bale sangat mendalami dan menjiwai perannya sebagai Dicky Ecklund. Dalam dirinya para penonton akan melihat seorang junker, ayah yang mencintai anaknya, anak yang mencintai keluarganya, dan kakak yang mencintai adiknya. Semuanya berhasil dia tunjukkan dalam dirinya. Ekspresi-ekspresi yang ditunjukkan dia pun terasa sangat dalam. Dia berhasil menampakkan karakter orang yang sedang nyandu dan bagaimana dia berhasil merubah dirinya menjadi lebih baik untuk seluruh keluarganya.

Wahlberg juga bermain cemerlang kali ini. Namun memang konflik-konflik Micky yang dia perankan tidak seberat dengan konflik yang dihadapi oleh Dicky. Jadi jelas akan lebih sulit memerankan tokoh Dicky dari pada Micky. Namun dengan kerja keras Wahlberg, tokoh Micky pun akhirnya menjadi sangat cemerlang dan tetap berhasil membuat penonton menjadi lebih 'memaklumi' semua keputusan yang diambil oleh Micky. Semua ekspresi yang ditunjukkan Wahlberg dalam filmnya kali ini juga terasa natural dan sangat menyentuh.

Sedangkan Amy Adams juga memiliki peran yang cukup krusial dalam film ini. Memang dia tidak mendapatkan porsi sebesar Christian Bale, namun bukan berarti hal tersebut menjadi penghalang bagi Adams untuk bermain cantik dalam memerankan tokoh Charlene.

Chemistry dalam The Fighter terasa sangat kuat, antara Bale dengan Wahlberg, Wahlberg dengan Adams, Bale dan Wahlberg dengan keluarganya (terutama ibunya). Semua hubungan dalam film ini membuat penonton menjadi terbawa emosinya dengan baik dan konsisten.

Sinematografi dalam The Fighter juga patut diacungi jempol. Keseluruhan gambar dalam film ini berhasil bersatu menjadi sebuah jalinan cerita yang kuat dan indah. Hal ini juga didukung oleh naskah yang ditulis oleh Scott Silver dan Paul Tamasy. Semua percakapan yang ada di setiap adegan terasa santura dan mengalir. Tidak terasa ada yang dibuat-buat. Efek visual juga tidak dapat kita ke sampingkan. Semua hal ini membuat The Fighter menjadi sebuah sajian yang sangat menarik dan down to earth.

Plot cerita dalam film ini sebagian besar memang didukung dari kisah nyata, namun tidak dapat dipungkiri kalau film ini tetap mendapatkan sentuhan-sentuhan drama yang klasik namun tetap touching. Maka dari itu, saya rasa The Fighter sukses menjadi salah satu film tentang olahraga tinju yang sukses setelah Rocky.

Happy Watching...







REVIEW: THE HOLE (2011)

Senin, 14 Februari 2011

| 0 komentar

Mari sekarang kita bahas film The Hole yang telah diproduksi dan rampung pada tahun 2009, namun baru pada 2011 film ini dapat disaksikan di bioskop-bioskop Indonesia. Saya saja baru menonton film ini minggu yang lalu. Namun terjadi kesalahan urutan mereview. Seharusnya saya me-review The Hole dulu baru review No Strings Attached.

"Pindah ke lingkungan baru memang tidak selalu mudah untuk diterima oleh semua pihak anggota keluarga. Hal ini yang terjadi dengan keluarga Lucas (Nathan Gamble), Dane (Chris Massoglia), dan Ibunya, Susan (Teri Polo). Mereka yang sebelumnya tinggal di New York terpaksa harus pindah ke sebua kota kecil bernama Bensonville. Dane merasa tidak cocok pindah ke sana. Dia merasa jauh dari teman-temannya dan kurang mau beradaptasi dengan lingkungan baru. Berbeda dengan Lucas yang tetap merasa exciting di lingkungan barunya. Beberapa kali Lucas telah berusaha mngajak Dane untuk menemaninya bermain. Namun Dane yang selalu menutup diri menolak ajakan Lucas. Hingga suatu saat, Lucas yang menyadari Dane sedang memandangi seorang remaja putri yang ternyata tetangga sebelah rumah mereka. Agar Dane mau ke luar rumah, Lucas pun mengerjainya. Lucas menghampiri wanita itu dan memperkenalkan dirinya serta menunjuk Dane yang sedang mengintip di jendela kamarnya. Dane yang merasa gusar akhirnya ke luar rumah dan mengejar Lucas.

Saat kejar-kejaran itu, Lucas berlari menuju ke runag bawah tanah rumah mereka. Di sana Dane menemukan sebuah pintu aneh di lantai. Pintu itu dipenuhi oleh banyak gembok. Dane dan Lucas yang penasaran berusaha membuka semua gembok di pintu itu. Setelah pintu berhasil terbuka, mereka melihat sebuah lubang gelap yang sepertinya sangat dalam. Tidak berapa lama, Julie (Halley Bennet), yang tetangga mereka itu menghampiri mereka yang berada di dekat lubang ruang bawah tanah. Mereka bertiga melakukan eksperimen, yaitu dengan memasukkan Handycam ke dalam lubang itu menggunakan tali. Sesudah itu, mereka berkumpul di ruang keluarga untuk menonton hasil rekaman mereka di dalam lubang itu. Belum lama mereka menonton, Susan telah pulang dari kantornya. Lucas segera mematikan televisi.

Setelah mereka bertiga melihat lubang itu, maka mereka segera merasakan hal-hal aneh yang terjadi di sekitar mereka. Semua hal yang selama ini mereka takuti hadir dengan tiba-tiba dan terus-menerus. Mereka pun akhirnya berusaha mengungkapkan misteri mengenai lubang tersebut."

Dari awal film ini di mulai, Joe Dante telah berusaha menghadirkan suasana horor. Di tambah lagi pada beberapa adegan dibuat lebih menegangkan dengan menghadirkan suara-suara yang lebih menegangkan. Hal seperti ini dapat lebih mudah kita temukan di film-film horor Indonesia. Bisa dibilang ini salah satu kehebatan orang-orang Indonesia. Namun bedanya, film horor Indonesia sangat jauh kualitasnya di bawah film-film horor luar negeri. Kesan horor yang ada dalam film ini hadir secara konsisten dari awal hingga akhir film. Secara keseluruhan efek visual yang dihadirkan terasa signifikan menolong keseluruhan jalan cerita film.

Plot cerita yang dihadirkan The Hole sedikit berbeda dari kebanyakan tipe film-film horor Hollywood lainnya. Dengan sedikit perbedaan ide cerita, film ini mampu membuat penonton terbawa penasaran dengan setiap adegan di film ini. Selain itu, conclusion yang dihadirkan The Hole pun mampu membuat penonton menjadi semakin memahami alasan semua kejadian misterius yang terjadi dari awal film ini dimulai.

Plot cerita yang sudah lumayan ini juga didukung oleh kekuatan dialog para pemerannya. Dialog yang hadir terasa mengalir dan mendukung setiap adegan dengan sangat kuat. Sang sutradara, Joe Dante, juga terasa tidak main-main dalam mengarahkan tiga tokoh utama dalam filmnya kali ini. Akting dari semua pemeran utama itu terasa sangat meyakinkan dan natural. Semua ekspresi mereka berhasil ditangkap penonton, baik secara eksplisit maupun implisit.

The Hole berhasil menjadi film horor remaja dengan paket yang tidak terlalu mengecewakan. Justru sebenarnya cukup bagis sebagai tontonan bersama keluarga. The Hole tampil sebagai film horor keluarga yang sopan dan pantas menjadi alternatif film untuk ditonton oleh remaja di mana saat ini banyaknya film horor dewasa yang berlomba membanjiri filmnya dengan darah, seks, dan hal porno lainnya.

Happy Watching...





REVIEW: NO STRINGS ATTACHED (2011)

Sabtu, 12 Februari 2011

| 0 komentar


Setelah sebelumnya tampil sebagai ballerina yang memiliki kehidupan yang gelap, kini Natalie Portman kembali hadir dengan genre film yang lebih ringan, drama komedi romantis. Kali ini penonton tidak akan diajak berpikir keras mengenai jalan cerita film. Kali ini Portman beradu akting dengan salah satu aktor favorit saya, yaitu Ashton Kutcher.

Film ini mendapat grade dan ulasan yang kurang memuaskan dari E! Online tidak membuat niat saya untuk menonton film ini menjadi surut. Saya tetap semangat sekali menyaksikan No Strings Attached. Mungkin karena ada Ashton Kutchernya 

"Emma (Natalie Portman) dan Adam (Ashton Kutcher) telah berteman sejak kecil. Namun mereka sempat lost contact hingga akhirnya ketika mereka sudah dewasa dipertemukan kembali di sebuah acara. Pada awal pertemuan kembali itu hubungan mereka masih berjalan wajar, hingga pada suatu saat Adam dikecewakan oleh ayahnya yang ternyata memacari mantan pacarnya, bahkan mereka memutuskan untuk tinggal serumah. Adam yang merasa sangat kecewa akhirnya mabuk-mabukan dan tidak sadarkan diri. Pada suatu pagi Adam terbangun di tempat yang tidak dikenalinya, dan yang paling penting adalah dia bagun dalam keadaan naked. Dalam keadaan bingung akhirnya adam bertemu dengan Emma yang ternyata juga tinggal di tempat itu. Adam pun diajak ke kamar Emma jika dia ingin bajunya kembali. Di sanalah awal petualangan mereka di mulai. Mereka memutuskan untuk menjlani hubungan pertemanan tapi mesra, bahkan mereka menyebutnya teman seks.

Mereka dapat di mana saja dan kapan saja melakukan hubungan seks. Mereka juga menyadari kalu hubungan pertemanan mereka yang seperti itu sangatlah rentan. Maka mereka pun memutuskan untuk menerapkan peraturan-peraturan tertentu, seperti tidak boleh ada saling cemburu, cinta, pertengkaran, bunga, dan bayi. Pokoknya mereka semakin menekankan kalau hubungan yang mereka jalani hanya sebatas teman seks dan tanpa ikatan perasaan apa pun.

Lama kelamaan Emma mulai merasa bosan dengan hubungannya bersama Adam dan dia sebenarnya merasakan hal yang sama seperti yang Adam rasakan, yaitu perasaan jatuh cinta. Bedanya adalah Adam berani mengatakan dengan jelas kalau dia jatuh cinta sedangkan Emma selalu berusaha menyangkal perasaannya sendiri yang akhirnya berakibat dia memutuskan untuk pergi dari kehidupan Adam. Adam pun tidak bisa berbuat apa-apa jika memang itu keputusan Emma. Akhirnya mereka kembali menjalani kehidupan normal mereka. Kembali disibukkan dengan pekerjaan masing-masing.

Dalam menjalani kehidupannya yang telah kembali normal, Emma akhirnya tidak dapat menyangkal lagi kalau dia memang telah jatuh cinta dengan Adam. Emma mulai sering bengong dan tatapan matanya kosong. Adik Emma pun, Katie (Olivia Thirlby), akhirnya meminta Emma untuk segera menghubungi Adam lagi. Emma akhirnya berani menghubungi Adam. Namun tanggapan Adam saat itu datar dan justru menghindar dari Emma. Akhirnya Emma memutuskan untuk pergi menemui Adam di rumahnya. Sesampainya di sana dia melihat Adam yang baru saja pulang dan turun dari mobil, namun dia tidak seorang diri. Adam bersama dengan Lucy (Lake Bell), temannya di tempat kerja. Emma yang salah paham akhirnya memilih untuk batal menemui Adam dan segera pergi dari rumah Adam.

Di perjalanan pulang Emma mendapatkan kabar kalau bapaknya Adam masuk rumah sakit. Dia pun segera meluncur ke rumah sakit, karena dia yakin Adam akan ada di sana juga."

No Strings Attached memang tidak menawarkan sesuatu yang baru, film ini layaknya film-film komedi romantis lainnya saja yang sudah bayak dikeluarkan oleh Hollywood. Namun menurut saya, dengan menempatkan Portman dan Kutcher sebagai bintang utama telah menjadi nilai lebih dari film ini. Pesona dari mereka berdua begitu besar, sehingga membuat banyak orang yang penasaran dengan kekuatan akting mereka.

Kutcher sudah lebih sering bermain dalam genre film seperti ini jika dibandingkan Portman. Jadi tidak heran kalau Kutcher berhasil membawa tokoh Adam menjadi luar biasa dan sangat natural. Dia bermain lepas dan berhasil menimbulkan decak tawa dari penonton yang berada di studio bioskop tempat saya menonton. Sedangkan Portman yang lebih terbiasa mendapatkan peran-peran yang lebih berat dari pada perannya di film ini juga telah berhasil membawa karakter Emma dengan baik. Terlihat sekali Portman selalu menjiwai semua peran yang dia mainkan di setiap film.

Kekuatan akting yang sudah tidak diragukan lagi dari Portman dan Kutcher bukan berarti membuat mereka jadi mudah memunculkan chemistry di antara mereka. Masih terasa sangat kurang chemistry antara Portman dengan Kutcher, sehingga di setiap adegan mereka yang satu frame saya selalu merasa kurang geregetnya. Padahal kalau mereka dapat memunculkan chemistry itu maka film ini akan jauh lebih lucu dan semakin menarik untuk diiukuti. Bagi saya, chemistry antara Kutcher dengan Heigl lebih terasa jika dibandingkan dengan Portman di sini.

Plot cerita yang juga tidak memberikan sesuatu yang baru, sehingga membuat film ini menjadi sangat mudah untuk ditebak dan diikuti. Konflik-konflik yang mucul pun terasa kurang dalam dan menggantung. Sayang sekali karena konflik sepertinya stuck dan tidak berkembang. Penyelesaian dari konflik yang terjadi pun terasa sangat biasa. Sehingga setelah menonton film ini komentar yang keluar dari orang-orang yang berada di teater bioskop yang saya dengar adalah "udah ni begini doang?".

Namun jika anda sedang merasa lelah dan penat dengan kegiatan anda maka No Strings Attached cukup dapat menghibur dan membuat anda tertawa.

Happy Watching...








REVIEW: BLUE VALENTINE (2010)

| 0 komentar


Blue Valentine merupakan film romansa rumah tangga. Bukan hanya sekedar kisah percintaan yang selama ini banyak kita dapatkan dari berbagai film romansa cetakan Hollywood. Blue Valentine berani hadir dengan romansa yang lebih fresh dan keluar dari 'jalan yang biasa'. Bahkan Ryan Gosling merekomendasikan film ini wajib ditonton oleh mereka yang rumah tangganya sedang mengalami masalah, terutama masalah kejenuhan.

Blue Valentine mendapatkan rating R (Resctricted) alias terbatas yang dikhususkan bagi penonton dewasa. Lembaga Sensor Film (LSF) Amerika Serikat setuju melabelkan film ini dengan rating R. Setelah sebelumnya rating NC-17 menjadi perdebatan di lembaga tersebut. Hal ini dikarenakan adegan dalam film banyak yang berbau seksual. Bahkan terdapat adegan seks oral yang dilakukan Williams ke Gosling.

Disutradarai dan ditulis skripnya oleh Derek Cianfrance, film ini menampilkan dua nominator Oscar. Blue Valentine telah dirilis sejak 29 Desember 2010 lalu.

"Blue Valentine berkisah tentang sepasang suami istri, yaitu Dean (Ryan Gosling) dan Cindy (Michelle Williams) yang sedang mengalami kejenuhan hingga di titik yang paling parah. Dean hanya bekerja serabutan. Dia pernah bekerja sebagai pengangkut barang-barang untuk orang-orang yang pindahan hingga menjadi tukang cat. Namun Dean memiliki cinta yang penuh dan tulus untuk keluarganya. Sedangkan Cindy yang bekerja sebagai perawat dan mendapatkan promosi naik jabatan membuat dia merasa bosan dengan Dean yang tidak memiliki pekerjaan tetap.
Hingga suatu saat, Dean yang merasakan terdapat masalah dalam rumah tangganya dan memaksa dia untuk segera bertindak agar dia dapat menyelamatkan rumah tangganya dengan Cindy. Mereka menitipkan anak mereka, Frankie (Faith Wladyka), ke rumah orangtua Cindy. Setelah menitipkan Frankie, Dea mengajak Cindy untuk pergi berlibur menginap di sebuah penginapan. Saat di perjalanan, mereka sempat berhenti di sebuah pasar swalayan. Cindy pergi ke sana untuk membeli berbagai macam makanan dan minuman untuk dia dan Dean. Saat di pasar swalayan itu Cindy bertemu dengan Bobby (Mike Vogel) yang merupakan mantan pacarnya. Setelah selesai berbelanja, Cindy kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan dan menceritakan kepada Dean kalau dia baru saja bertemu dengan Bobby. Dean merasa marah dan cemburu.
Sesampainya di penginapan, Cindy melakukan kewajibannya hanya dikarenakan dia masih berstatus seorang istri, bukan dengan perasaan sayang dan cinta terhadap suaminya. Dean yang merasakan hal itu merasa sangat frustasi dan marah. Pagi-paginya, Cindy pergi diam-diam untuk berangkat kerja. Dean yang baru saja bangun dari tidur segera emosi melihat istrinya sudah tidak ada di penginapan tersebut. Dean pun segera menyusul Cindy ke tempat kerjanya. Di sana mereka terlibat pertengkaran yang hebat dan menentukan nasib pernikahan mereka untuk ke depannya."

Film memiliki alur maju mundur (masa lalu - masa kini). Kita bukan hanya diperlihatkan segalam macam masalah yang ada pada masa kini, tapi juga diberikan gambaran mengenai yang terjadi pada Dean dan Cindy di masa lalu, di masa di mana mereka belum menikah. Di mulai dari awal pertemuan mereka hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menikah. Semua penggambaran yang ada dalam film ini membuat penonton menjadi lebih mudah mengikuti perkembangan hubungan Dean dengan Cindy.

Gosling sangat berhasil memunculkan emosi yang natural dari Dean. Dia bermain sebagai seorang pria yang telah memasuki usia matang, memiliki rumah tangga yang baik, namun dia tidak memiliki pekerjaan tetap. Dia selalu berada di rumah, mengurus dan menemani Frankie dan selebihnya dihabiskan untuk mabuk-mabukan di rumah. Semua yang dilakukan Gosling dalam film ini terasa sangat natural dan berjalan apa adanya, terutama kasih sayang yang dia curahkan untuk keluarganya. Dia terlihat sangat menyayangi Frankie. Hal ini berjalan konsisten hingga film berakhir. Semua permasalahan yang dia hadapi dengan istrinya tidak mengganggu kasih sayang yang dia berikan kepada Frankie.

Sedangkan Williams juga bermain sangat baik. Ya, dia memerankan karakter Cindy dan berhasil menghidupkan karakter tersebut. Michelle Williams yang sebelumnya sudah pernah memerankan karakter ibu rumah tangga yang frustasi dikarenakan ternyata suaminya adalah seorang gay di Brokeback Mountain (2005), terlihat tidak mengalami kesulitan dalam memerankan karakter Cindy yang juga merupakan ibu rumah tangga yang ternyata memiliki dan menyimpan segudang masalah dan emosi yang sulit. Williams berhasil menghidupkan karakter Cindy dengan ekspresi wajahnya, sorotan matanya, cara berbicaranya, hingga gerak tubuhnya yang berusaha menunjukkan emosi yang sulit untuk dikatakan. Hal ini berhasil membuat penonton menjadi ikut berempati dengan karakter Cindy. Bahkan kita dapat melihat dengan jelas perubahan emosi Cindy muda ke Cindy yang telah berkeluarga. Perubahan emosi yang sangat drastis menurut saya. Michelle Williams berhasil menampilkan emosi yang saling bertentangan itu dengan sangat baik. Ketika Cindy masih muda, dia terlihat begitu ceria, bebas, menyenangkan, manis, dan terbuka. Namun ketika Cindy sudah memasuki dunia rumah tangga, semua emosi itu terasa seperti meluap begitu saja. Kita tidak akan melihat Cindy yang seperti dulu lagi, karena Cindy yang di masa kini adalah Cindy yang serius bahkan cenderung kaku, dewasa, berorientasi pada karir, dan frustasi dengan kehidupan rumah tangganya.

Saya merasa puas dengan sinematografinya yang mampu mengangkap dan menampilkan dengan sangat baik apa yang sedang terjadi dalam setiap adegan. Selain itu score dan soundtrack-nya pun terasa membius saya untuk lebih menikmat lagi setiap adegan. Ryan Gosling pun ternyata turut menyumbangkan dua lagu yang ditulis dan ditampilkan sendiri oleh dirinya.

Dalam Blue Valentine, kita hanya dipusatkan oleh dua karekter utamanya, yaitu Cindy dan Dean. Karakter-karakter lain yang hadir di sini hanya sebagai pelengkap dan penjelas di setiap adegannya. Kehadiran karakter lain dalam film ini terasa tetap penting walaupun mereka hanya mendapatkan porsi yang kecil. Namun tanpa kehadiran karakter lain ini Blue Valentine tidak akan dapat menggambarkan sebaik ini mengenai apa yang terjadi dan dirasakan oleh Cindy maupun Dean.

Setelah selesai menonton film ini, saya jadi berpikir bahwa apa yang dialami oleh rumah tangga Dean dengan Cindy ternyata sangat lumrah dan pasti banyak orang yang merasa serupa dengan dua karakter utama tersebut. Dengan menonton film ini, saya menjadi mendapatkan gambaran mengenai bagaimana kehidupan rumah tangga jika sudah berada di titik kejenuhan yang paling parah. Orang yang baru berpacaran saja sudah sering merasa bosan dengan pasangannya, apalagi orang yang sudah memutuskan untuk berumah tangga. Mereka yang sudah berjanji dalam ikatan yang suci dan sakral untuk hidup saling setia dan mencintai sampai akhir hayat. Pasti akan lebih mengalami dinamika kehidupan yang lebih dahsyat dari pada orang yang baru sampai pada tahap berpacaran. Akhirnya saya pun tersadar bahwa untuk meperbaiki hubungan yang sudah rapuh ini dibutuhkan kerjasama yang baik dan kompak dengan pasangan serta mengingat kembali komitmen awal ketika menjalani hubungan.

Bagi anda yang menginginkan tontonan down to earth, tidak menjual khayalan, maka Blue Valentine merupakan film yang paling tepat untuk disaksikan.

Happy Watching...





REVIEW: THE TOWN (2010)

Jumat, 11 Februari 2011

| 1 komentar


Pertama kali tahu film ini dari resensi film di http://www.eonline.com/ Mendapat ulasan dan grade yang cukup bagus membuat saya menjadi penasaran dengan film terbarunya Ben Affleck ini. Rasanya sudah cukup lama saya tidak melihat dia. Kali ini dia bukan hanya membintangi The Town saja, tetapi dia juga lah yang menyutradarai dan menulis skrip film ini. Woooowwww..... triple job.

Kehandalan Ben Affleck sebagai sutradara kembali terbukti. The Town telah berhasil merajai Box Office Amerika Utara pada bulan November tahun lalu. The Town merupakan kelanjutan dari film Gone Baby Gone pada tahun 2007 yang juga disutradari dan dibintangi oleh Ben Affleck. Gone Baby Gone juga sukses meraup penghasilan sebesar USD 20,3 juta.

"The Town merupakan film yang menceritakan tentang perjalanan sekelompok perampok, yang terdiri dari Dough McRay (Ben Affleck), James Coughlin (Jeremy Renner), Albert 'Gloansy' Magloan (Slaine), dan Desmond Elden (Owen Burke). Keempat perampok ini berhasil merampok sebuah Bank dan menyadera manajer Bank tersebut, Claire Keesey (Rebecca Hall). Malang untuk James karena Claire sempat melihat tatto di tengkuk lehernya saat dia sedang merampok di Bank tersebut. Namun Claire tidak berani mengungkapkan hal tersebut kepada agen FBI dan kepolisian yang menangani kasus tersebut. Beberapa waktu kemudian Dough mulai jatuh hati dengan Claire dan mereka pun menjadi sepasang kekasih. Claire tidak pernah mengetahui bahwa Dough adalah pelaku dan otak perampokan di Bank tempat dia bekerja.


Ketidak tahuan Claire tidak berlangsung lama, karena pada akhirnya Claire mengetahui jati diri sebenarnya dari Dough. Pada saat yang bersamaan, Dough sedang melangsungkan aksinya kembali, yaitu merampok di sebuah Stadion."

Affleck dapat menjaga ritme film ini dengan baik. Sebagai seorang sutradara, Affleck telah berhasil membawa film ini menjadai sajian yang layak untuk dinikmati. Dia berhasil menjaga intensitas film ini dan membuktikan kualitas aktingnya yang sepatutnya tidak diremehkan. Untuk skrip pun terasa mengalir dan apa adanya, tidak ada sesuatu yang berlebihan. Semua pemeran berhasil memunculkan greget film juga karena dialog-dialog antar pemainnya yang kuat.

Rasanya saat menonton The Town saya menjadi teringat kembali dengan film Takers yang keluar tahun lalu. Sama-sama menceritakan sekelompok perampok yang diakhir aksinya mengorbankan banyak anggotanya mati di tangan polisi dan FBI. Kedua film ini berhasil membuat saya tergiur untuk tetap berada di depan layar untuk menyaksikan adegan demi adegan hingga film selesai.

Kekuatan akting Aflleck di sini tidak lepas dengan kehebatan akting dari para pemeran tokoh lainnya, antara lain Rebeca Hall. Hall dan Affleck berhasil memunculkan chemistry di antara mereka hingga penonton pun ikut terbawa dengan kisah percintan mereka. Walaupun sebenarnya kisah percintaan yang diselipkan ke dalam film ini tidak ada yang istimewa, namun menurut saya Hall dan Affleck tampil 'klik' dalam The Town. Rasanya setiap film dengan tipe seperti ini pasti akan diselipkan sedikit kisah percintaan yang berguna untuk menurunkan tensi ketegangan penonton setelah banyak disajikan adegan-adegan aksi yang cukup heboh. Selain dengan Hall, Affleck juga terlihat pas dan kompak dengan anggota kawanan perampoknya. Mereka terlihat menyatu, sehingga rasanya memang tidak mungkin kelompok perampok itu dapat berjaan jika tanpa kehadiran Affleck di dalamnya. Namun sayang, kelemahannya adalah hubungan Affleck dengan Slaine dan Owen Burke kurang mendalam. Di sini kita hanya dapat melihat kedalaman hubungan Affleck dengan James Renner dan Blake Lively. Akhirnya menimbulkan kesan kalau Slaine dan Owen Burke hanya merupakan tokoh tambahan yang sebenarnya tidak memiliki arti yang krusial dalam keseluruhan cerita film.

Sudah pasti adegan puncak dalam film ini menjadi salah satu bagian terfavorit saya. Sebenarnya saya tidak merasa ada sesuatu yang berbeda dalam adegan puncaknya. Dipenuhi oleh deg-degan dan bertanya-tanya siapa kiranya yang akan mati terlebih dahulu, dan yang paling pasti adalah pasti tokoh 'jagoan'nya akan berhasil lolos. Yepppp...semua tebakan saya ini benar. Anggota kawanan perampok itu akhirnya mati satu per satu dan Affleck berhasil melarikan diri. Selain itu adegan ketika Affleck berhasil meloloskan diri dan kembali ke apartemennya. Pada saat itu dia segera menelepon Hall, padahal dia dapat melihat Hall dengan jelas dari kaca jendela kamar apartemennya. Dia mengetahui dengan jelas bahwa Hall berada dalam tekanan dan pengawasan FBI yang menyuruh Hall untuk meminta Affleck datang ke apartemennya untuk kemudian diciduk oleh FBI.

Dalam The Town lagi-lgi kita disuguhkan mengenai keliahain dan kecerdikan antara polisi dan FBI dengan kawanan perampok. Seolah-olah seperti sedang menguji siapa yang lebih cepat, lihai, dan cerdik. Apakah para kawanan polisis dan FBI atau justru mereka kalah segala-galanya dari kawanan perampok?

Bagi anda yang menyukai genre film drama, crime, thriller maka The Town pantas anda saksikan ditambah lagi mengingat James Renner berhasil mendapatkan nominasi dalam Oscar tahun ini, maka dapat dipastikan kalau The Town memang termasuk ke dalam salah satu jajaran film terbaik tahun ini.

Happy Watching..







OSCAR - NOMINATIONS 2011

Minggu, 06 Februari 2011

| 0 komentar
Melihat daftar nominasi Oscar tahun ini saya cukup puas. Semua film spektakuler sepanjang tahun lalu berhasil lolos masuk ke dalam jajaran nominasi Oscar, sebut saja Inception, Toy Story 3, The King's Speech, Black Swan, The Fighter, True Grit, dan The Social Network. Sayangnya.... The Town hanya mendapatkan satu nominasi, padahal saya sempat menjagokan film ini, dan yang mengagetkan adalah ternyata Unstoppable berhasil meraih satu nominasi untuk kategori Sound Editing dan Iron Man 2 mendapatkan nominasi Visual Effects.

Mari disimak siapa saja yang berada di jajaran nominasi Oscar - The 83rd Academy Awards yang akan digelar pada 27 Februari 2011.

BEST PICTURE
Black Swan : Mike Medavoy, Brian Oliver and Scott Franklin
The Fighter : David Hoberman, Todd Lieberman and Mark Wahlberg
Inception : Emma Thomas and Christopher Nolan
The Kids Are All Right : Gary Gilbert, Jeffrey Levy-Hinte and Celine Rattray
The King’s Speech : Ianin Canning, Emile Sherman and Gareth Unwin
127 Hours : Christian Colson, Danny Boyle and John Smithson
The Social Network : Scott Rudin, Dana Brunetti, Michael De Luca and Ceán Chaffin
Toy Story 3 : Darla K. Anderson
True Grit : Scott Rudin, Ethan Coen and Joel Coen
Winter’s Bone : Anna Rosellini and Alix Madigan-Yorkin

ACTOR IN A LEADING ROLE
Javier Bardem : Biutiful
Jeff Bridges : True Grit
Jesse Eisenberg : The Social Network
Colin Firth : The King’s Speech
James Franco : 127 Hours

ACTOR IN A SUPPORTING ROLE
Christian Bale : The Fighter
John Hawkes : Winter’s Bone
Jeremy Renner : The Town
Mark Rufallo : The Kids Are All Right
Geoffrey Rush : The King’s Speech

ACTRESS IN A LEADING ROLE
Annete Bening : The Kids Are All Right
Nicole Kidman : Rabbit Hole
Jennifer Lawrence : Winter’s Bone
Natalie Portman : Black Swan
Michelle Williams : Blue Valentine

ACTRESS IN A SUPPORTING ROLE
Amy Adams : The Fighter
Helena Bonham Carter : The King’s Speech
Melissa Leo : The Fighter
Hailee Steinfeld : True Grit
Jacki Weaver : Animal Kingdom

ANIMATED FEATURE FILM
How To train Your Dragon : Chris Sanders and dean DeBlois
The Illusionist : Sylvain Chomet
Toy Story 3 : Lee Unkrich

ART DIRECTION
Alice In Wonderland : Robert Stromberg (Production Design); Karen O’Hara (Set Decoration)
Harry Potter and the Deathly Hallows Part 1 : Stuart Craig (Production Design); Stepheni McMillan (Set Decoration)
Inception : Guy Hendrix dyas (Production Design); Larry Dias and Doug Mowat (Set Decoration)
The King’s Speech : Eve Stewart (Production Design); Judy Farr (Set Decoration)
True Grit :  Jesse Gonchor (Production Design); Nancy Haigh (Set Decoration)

CINEMATOGRAPHY
Black Swan : Matthew Libatique
Inception : Wally Pfister
The King’s Speech : Danny Cohen
The Social Network :  Jeff Cronenweth
True Grit : Roger Deakins

COSTUME DESIGN
Alice in Wonderland : Colleen Atwood
I Am Love : Antonella Cannarozzi
The King’s Speech : Jenny Beaven
The Tempest : Sandy Powell
True Grit : Mary Zophres

DIRECTING
Black Swan : Darren Aranofsky
The Fighter : David O. Russel
The King’s Speech : Tom Hooper
The Social Network : David Fincher
True Grit :  Joel Coen and Ethan Coen

DOCUMENTARY FEATURE
Exit through the Gift Shop : Banksy and Jaimie D'Cruz
Gasland :  Josh Fox and Trish Adlesic
Inside Job : Charles Ferguson and Audrey Marrs
Restrepo : Tim Hetherington and Sebastian Junger
Waste Land : Lucy Walker and Angus Aynsley

DOCUMENTARY SHORT SUBJECT
Killing in the Name :  Jed Rothstein
Poster Girl : Sara Nesson and Mitchell W. Block
Strangers No More : Karen Goodman and Kirk Simon
Sun Come Up :  Jennifer Redfearn and Tim Metzger
The Warriors of Qiugang : Ruby Yang and Thomas Lennon

FILM EDITING
Black Swan : Andrew Weisblum
The Fighter : Pamela Martin
The King's Speech : Tariq Anwar
127 Hours : Jon Harris
The Social Network : Angus Wall and Kirk Baxter

FOREIGN LANGUAGE FILM
Biutiful : Mexico
Dogtooth : Greece
In a Better World : Denmark
Incendies : Canada
Outside the Law (Hors-la-loi) : Algeria

MAKEUP
Barney's Version : Adrien Morot
The Way Back : Edouard F. Henriques, Gregory Funk and Yolanda Toussieng
The Wolfman : Rick Baker and Dave Elsey

MUSIC (ORIGINAL SCORE)
How to Train Your Dragon :  John Powell
Inception : Hans Zimmer
The King's Speech : Alexandre Desplat
127 Hours : A.R. Rahman
The Social Network : Trent Reznor and Atticus Ross

MUSIC (ORIGINAL SONG)
Country Strong : "Coming Home" Music and Lyric by Tom Douglas, Troy Verges and Hillary Lindsey
Tangled : "I See the Light"  Music by Alan Menken; Lyric by Glenn Slater
127 Hours : "If I Rise" Music by A.R. Rahman; Lyric by Dido and Rollo Armstrong
Toy Story 3 : "We Belong Together" Music and Lyric by Randy Newman

SHORT FILM (ANIMATED)
Day & Night : Teddy Newton
The Gruffalo :  Jakob Schuh and Max Lang
Let's Pollute : Geefwee Boedoe
The Lost Thing : Shaun Tan and Andrew Ruhemann Madagascar, carnet de voyage (Madagascar, a Journey Diary) : Bastien Dubois

SHORT FILM (LIVE ACTION)
The Confession : Tanel Toom
The Crush : Michael Creagh
God of Love : Luke Matheny
Na Wewe : Ivan Goldschmidt
Wish 143 : Ian Barnes and Samantha Waite

SOUND EDITING
Inception : Richard King
Toy Story 3 : Tom Myers and Michael Silvers
Tron: Legacy : Gwendolyn Yates Whittle and Addison Teague
True Grit : Skip Lievsay and Craig Berkey
Unstoppable : Mark P. Stoeckinger

SOUND MIXING
Inception : Lora Hirschberg, Gary A. Rizzo and Ed Novick
The King's Speech : Paul Hamblin, Martin Jensen and John Midgley
Salt :  Jeffrey J. Haboush, Greg P. Russell, Scott Millan and William Sarokin
The Social Network : Ren Klyce, David Parker, Michael Semanick and Mark Weingarten
True Grit : Skip Lievsay, Craig Berkey, Greg Orloff and Peter F. Kurland

VISUAL EFFECTS
Alice in Wonderland : Ken Ralston, David Schaub, Carey Villegas and Sean Phillips
Harry Potter and the Deathly Hallows Part 1 : Tim Burke, John Richardson, Christian Manz and Nicolas Aithadi
Hereafter : Michael Owens, Bryan Grill, Stephan Trojansky and Joe Farrell
Inception : Paul Franklin, Chris Corbould, Andrew Lockley and Peter Bebb
Iron Man 2 :  Janek Sirrs, Ben Snow, Ged Wright and Daniel Sudick

WRITING (ADAPTED SCREENPLAY)
127 Hours : Screenplay by Danny Boyle & Simon Beaufoy
The Social Network : Screenplay by Aaron Sorkin
Toy Story 3 : Screenplay by Michael Arndt. Story by John Lasseter, Andrew Stanton and Lee Unkrich
True Grit : Written for the screen by Joel Coen & Ethan Coen
Winter's Bone : Adapted for the screen by Debra Granik & Anne Rosellini

WRITING (ORIGINAL SCREENPLAY)
Another Year : Written by Mike Leigh
The Fighter : Screenplay by Scott Silver and Paul Tamasy & Eric Johnson. Story by Keith Dorrington & Paul Tamasy & Eric Johnson
Inception : Written by Christopher Nolan
The Kids Are All Right : Written by Lisa Cholodenko & Stuart Blumberg
The King's Speech : Screenplay by David Seidler


It's About What???

2006 (3) 2007 (1) 2008 (5) 2009 (4) 2010 (37) 2011 (43) 3D (4) Academy Awards (2) Action (13) Adam Sandler (1) Adventure (1) Alex Pettyfer (1) Amanda Seyfried (3) Amber Heard (2) Amy Adams (1) Andrew Garfield (1) Angelina Jolie (1) Anne Hathaway (2) Ashton Kutcher (1) Asian (6) Ben Affleck (2) Ben Stiller (1) Biography (4) Blake Lively (1) Bruce Willis (2) Cam Gigandet (1) Cameron Diaz (1) Chloë Moretz (1) Chris Cooper (1) Chris Pine (1) Christian Bale (1) Christina Aguilera (1) Christina Ricci (1) CIA (1) Colin Firth (1) Comedy (10) Crime (11) Dakota Fanning (1) Dance (1) Daniel Radcliffe (1) Denzel Washington (1) Documenter (1) Drama (49) Drew Barrymore (2) Dustin Hoffman (1) Dwayne Johnson (1) Education (1) Emma Roberts (1) Emma Watson (1) Erotic (1) Facebook (2) Family (16) Fantasy (11) Fiction (4) Game (1) Game Online (1) Geoffrey Rush (1) Gerrard Butler (1) Halle Berry (1) Han Ji-Hye (1) Hayden Panettiere (1) Helena Bonham-Carter (1) History (1) Horror (20) India (1) Jake Gyllenhaal (1) Jalan-jalan (1) Jason Statham (1) Jennifer Aniston (1) Jennifer Lopez (1) Jepang (2) Jesse Eisenberg (2) Jessica Alba (1) Johny Depp (1) Josh Duhamel (1) Julia Roberts (1) June (1) Justin Long (2) Justin Timberlake (1) Kate Beckinsale (1) Katherine Heigl (1) Keira Knightley (1) Kevin Costner (1) Kristen Bell (2) Lee Chun-Hee (1) Lee Hwi-Hyang (1) Leighton Meester (1) Liam Neeson (1) Life As We Know It (2) Lippo Cikarang (1) Little Fockers (1) Logan Lerman (1) Ludacris (1) March (1) Mark Wahlberg (1) Mark Zuckerberg (1) Mary-Kate Olsen (1) Michelle Williams (1) Mila Kunis (1) Morgan Freeman (1) Movie (64) Movie Release (3) MTV Movie Awards (1) Musical (1) Mystery (11) Naomi Watts (1) Natalie Portman (2) Nicholas Cage (1) Nicole Kidman (1) November (1) Oscar (2) Owen Wilson (2) Psikologis (3) Ray Winstone (1) Rebeca Hall (1) Review (61) Robert De Niro (2) Romance (14) Rosario Dawson (1) Rupert Grint (1) Russel Crowe (1) Ryan Gosling (1) Ryan Reynolds (1) Sam Rockwell (1) SciFi (3) Sean Penn (1) South Korea (3) Sport (1) Synopsis (10) Thailand (1) Thriller (25) Tommy Lee Jones (1) Vanessa Hudgens (1) Waterboom (1)

Count Me In....

Diberdayakan oleh Blogger.
 
blog-indonesia.com